Competition still goes on ….

Adalah Mutakin dan Dadang, dua teman sepermainanku sedari kecil.  Rumah kami saling berdekatan satu sama lain. Orang tua kami saling bersepupuan. Diantara kami bertiga Dadang lah yang paling tua, disusul Mutakin dan aku yang paling muda. Usia kami saling terpaut satu tahun, berarti Dadang 2 tahun lebih tua dariku. Sayang tak banyak yang bisa kuceritakan tentang Dadang semenjak kami berpisah setelah menamatkan sekolah dasar. Dadang berpindah desa mengikuti tugas orang tuanya.  Lama tak mendengar kabar darinya, suatu sore datang berita duka ke rumah. Dadang tewas tersengat listrik.

Beribu maaf teman sampai saat  ini masih juga belum  bisa menyambangi dirimu. Tapi doaku, semoga engkau tenang di alam penantianmu.

Tinggal Mutakin dan aku. Jujur aku sedikit heran dengan hubungan kami. Menurutku tidak ada yang namanya rivalitas diantara kami. Meski semenjak Taman Kanak-kanak kami bersekolah bersama, tidak pernah aku menganggap dia sebagai sainganku. Sainganku adalah orang lain bukan dia. Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi hanya satu kali dia mengalahkanku dalam prestasi akademis. Itupun terjadi bukan karena dia begitu pintar, tapi akunya yang sedang bermasalah.  Bahkan kalau mau jujur, prestasinya tak pernah mendekatiku sama sekali. Kalau aku diperingkat pertama, dia berada di luar lima besar. Dan ini terjadi sampai kami menginjak bangku sekolah pertama. Jadi dimataku Mutakin bukanlah saingan, atau ancaman dalam memperebutkan posisi nomer satu disekolah. Mutakin tidak pernah menjadi wakil sekolah dalam berbagai perlombaan yang membutuhkan kecerdasan otak.  Maaf ya bro, ini fakta he heh eheh

Tapi beda dimata orangtuanya. Aku adalah saingan terberat buat anak bungsunya.  Bahkan persaingan itu masih berlangsung sampai dengan sekarang. Kepulanganku seminggu yang lalu jadi bukti, ternyata rivalitas memang ada diantara Mutakin dan aku. Sebetulnya aku malas ketemu dengan ibunya Mutakin yang biasa ku panggil Bulik. Bukan apa-apa, tetapi pembicaraan kita tidak akan jauh dari cerita tentang kehebatan anaknya. Padahal aku merasa tidak ada persaingan sama sekali antara kami. Aku ikut tertawa kalau temanku bahagia, aku ikut bersedih kalau temanku menangis, dan aku sangat bahagia tatkala temanku menikah dan punya seorang anak yang lucu.

Tapi aku tidak suka dibanding-bandingkan. Kalau sekarang dia menikah lebih dulu dan kemudian punya seoarang anak, ya itu Rejeki Tuhan buat dia, dan rejeki Tuhan yang sedang aku cari.  Tidak perlu lah kemudian membandingkan, kamu kapan menikah dan punya anak seperti Mutakin.

Hahhhh, kenapa manusia tidak pernah puas? Selalu saja ada yang dipermasalahkan dan dipertanyakan. Dari kecil kapan kamu sunat, kemudian kapan kamu punya pacar. Setelah punya pacar, kapan pacar kamu mau dinikahi. Sstelah dinikahi, kapan kamu akan punya anak. Setelah punya anak, kapan kamu akan punya cucu. Setelah itu apalagi?

Kapan kamu akan mati? mungkin

Semua itu ada dalam impianku, hanya saja jalanku tak semudah jalan Mutakin. Garis takdir kita juga tidak sama. tapi aku berharap akan berakhir sama. Tidak tahukah engkau Bulik, perkataanmu itu menusuk hatiku? tetapi demi menyenangkanmu aku tetap senyum mendengarkanmu bicara. Tapi jangan sampai kesabaranku habis dengan bilang , Ibuku sudah mati, kok Bulik belum?

Naudzubillah jangan sampai ya Bulik

But deep inside my heart, i was really happy to meet you. Thanks for your cruel advise.

Add comment 8 February 2009

Blue in a minutes

Yogya, End January 2009

Mellow theme:

Bintang Di Langit Nan Indah
Dimanakah Cinta Yg Dulu

Masihkah Aku Disana
Di Relung Hati Dan Mimpimu
Andaikan Engkau Disini
Andaikan Tetap Denganku

Andaikan dia disini? Apa yang terjadi, indah atau sakit?

apakah indah itu menyakitkan, atau kah kebalikannya, menyakitkan itu indah?

come on, Wit….

keluar dari kekalutan sesaat! Perjalanan mu telah jauh. Enam bulan dalam deraan.

Add comment 1 February 2009

Perih….

Yogya, End January 2009,…
Gerimis itu membasahi jalanan hingga tergenang, kususuri jalanan Sosrowidjayan dengan Mio ku. Tiba-tiba perih menghinggapi sebelah kanan dadaku. Rasa perih itu mengantarkan ingatanku pada medio Juni 2008. Saat pertengkaran hebat, saat dia ingin memukulku, menendangku, bahkan ingin mengakhiri hidupku. Dan Tuhan rasa perih itu masih saja nggak mau pergi.
Dingin,… dan tetesan air hujan tiba-tiba berasa hangat di pipiku. Ah, air mata ini tidak bisa kutahan. Tuhan, apakah yang kurasakan ini?
Hati kecilku mengatakan, aku ingin bertemu dengan rasa sakit itu. Aku ingin mengulang sekali lagi.
Tuhan, jangan kau kabulkan permintaan hati kecilku itu. Biarkan aku berjalan meninggalkan ingatan itu.

Dan pelan, aku mulai meninggalkan tempat itu, seiring gerimis yang berubah jadi hujan

Add comment 1 February 2009

Shocked Overheard

Gerimis membasahi jalanan pagi itu. Didorong rasa lapar, aku terpaksa menerobos rintik hujan, ya dingin, sebagian bajuku basah. Nekat kulangkahkan kaki menuju tenda tukang bubur langgananku. Ah, sudah hampir tutup rupanya, tendanya sudah dibongkar.

“Habis Bang?” Tanyaku

“Masih banyak Ko, ini sudah mau dipake tempatnya jam segini, gantian sama yang lain. Mau makan sini atau bungkus saja?” kata tukang bubur. ” Kalau mau makan disini bisa duduk di tendanya tukang gado-gado aja” lanjutnya seoalah tahu pikiranku.

“O ya sudah makan sini saja” kataku sambil duduk di bangku panjang tukang gado-gado.

“Ji, koko nya numpang duduk bentar ya” kata si Tukang Bubur lagi kepada Tukang Gado-gado. Kupikir namanya Aji, Nardji atau siapalah yang beakhiran dengan Ji, nama si Tukang Gado-gadi itu.

“Iye, silahkan” sahut Tukang Gado-gado

Nggak lama, ada tukang parkir datang dan duduk ditengah diantara aku dan Tukang Gado-gado. Nggak sengaja pula aku mendengar percakapan mereka.

Tukang Parkir (TP): “Kemarin naik apa ?”

Tukang Gado2 (TG): ” Garuda ”

TP: “Sama ya, gue dulu juga Garuda, dapat tempat duduk di dekat sayap. Ada pengalama apa aja nih di Arafah?”

TG: ” Alhamdullillah bisa pegang Hajar aswad”

TP: ” Wah bersyukur banget. Gw dulu gak sempat, antriannya gw banyak banget”

Subhanallah, aku terhenyak. Rupanya pada waktu Tukang Bubur memanggil nama Tukang Gado, ” Ji ” itu kependekan dari Pak Haji. Subhanallah, nggak henti aku menyebut kebesaran Tuhan. Rupanya Tukang Parkir dan Tukang Gado-gado itu sudah berhaji.

Tuhan, berilah aku kesempatan sekali saja agar bisa berkata-kata seperti kedua orang besar itu.

Add comment 27 January 2009

Salah gak, jatuh cinta pada orang yang sudah beristri?

Kaget saja, dengar pembantu rumah tangga tiba-tiba mengajukan pertanyaan diatas.

What’s up sih, behind the question?

Atun yang baru berumur 18 tahun, mengajukan pertanyaan diatas. “Bukannya kita punya hak untuk jatuh cinta ya?” dengan gayanya yang polos. Wahh, Bingung juga nih mau jawab apa?

Ada benarnya juga sih dia bilang begitu. Rasa cinta kepada lawan jenis ( sejenis juga bisa) itu kadang tumbuh dengan sendirinya tanpa kita menyadari. Tahu-tahu kita sudah disandera oleh rasa ingin bertemu, bahkan parahnya lagi, rasa ingin memiliki. Kita memang dianugrahi Tuhan perasaan, dan mencintai adalah hak tiap manusia.

Mencintai bisa menjadi begitu indah, jika kita tepat dalam menyalurkannya. Tetapi kebalikannya, akan menjadi begitu menyakitkan jika salah sasaran. Nah pertanyaan yang diajukan oleh Atun adalah salah satu contoh bahwa mencintai tak selamanya penuh dengan keindahan. Malah bisa jadi penuh dengan pengorbanan.

Benar, tak ada yang salah dengan mencintai. Lalu bagaimana jika rasa mencintai itu berkembang dan kemudian membujuk diri untuk menguasai. Jangan sampai ya…Tun, soalna been there done that.

Akhirnya kubalikin saja pertanyaannya. Sebagai sesama perempuan, seandainya kamu ada diposisi istri, terus suami kamu menjalin cinta dengan perempuan lain, apa yang akan kamu pikirkan tentang perempuan lain itu, kira-kira gimana perasaan kamu?

Sakitlah pasti, kata si Atun. Nah Tun, itu kamu tahu. Mau gak kamu seperti itu? Jatuh cintanya gak ada yang salah. Tinggal kamu atur  aja, perasaan kamu itu, mau kemana, pertimbangkan dengan segala resikonya.

Menjadi yang kedua, bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Ada pepatah sebagus-bagusnya sepatu dipakainya tetap diinjak dikaki, sedang topi tempatnya dikepala. Banyak sekali yang harus kita korbankan, seandainya itu benar itu cinta. Motivasi diluar cinta? ya itu terserah saja. Take n give …

Asal sesuai saja dengan prinsip ekonomi. Pengorbanan tertentu untuk mendapat hasil yang maksimal, atau pengorbanan seminimal mungkin untuk hasil tertentu.

nah pilihan ada di kamu Tun, mau jadi Sepatu atau Topi?

1 comment 27 September 2008

Tragedi Wudhu dan audit maling

Jam 18.15 Wib…

Seperti biasanya sore itu aku ke Mushola, telat sih untuk ikut shalat jamaah utama dengan Imam Mushola, tapi kalau beruntung, kadang  masih bisa ngikut shalat jamaah ronde berikutnya.

Musholanya kecil, tempat wudhunya cuman ada 4, dan jarak antara kran yang satu ke kran yang lain lumayan berdekatan. Meski sudah lewat Maghrib, antrian di empat kran yang tersedia  lumayan panjang, pertanda bagus, artinya masih banyak orang Islam yang masih ingat untuk mencari Tuhan. Aku masuk pada antrian kran pertama.

Tiba giliranku mengambil air wudhu, aku dikagetkan pada cipratan besar air dari kran sebelah yang membuat sebagian pakaian yang kukenakan menjadi basah, terutama pada bagian celana. Kontan aku menengok ke sebelah, ternyata ada seorang bapak paruh baya yang juga sedang mengambil air wudhu, pas pada bagian membasuh muka. Dalam hati aku merasa sangat kesal, apa iya begini adat berwudhu yang benar. Terpaksa deh aku shalat dengan baju yang basah.

Maksud berwudhu adalah mensucikan diri dari najis kecil dengan menggunakan air dengan tata cara yang dianjurkan oleh Muhammad. Mensucikan diri bukan berarti hanya memikirkan diri sendiri, asal diri bersih secara fisik. Tetapi apakah hati dan pikiran juga menjadi bersih, jika kemudian karena aktifitas berwudhunya mengganggu orang lain, apalagi sesama Muslim yang sama sama ingin bertemu dengan Pencipta-Nya, dan menyembah Tuhan yang sama?

Well kupikir itu bukan sesuatu yang diharapkan dan juga diajarkan oleh Muhammad.  Setahuku Islam adalah agama yang sangat menjunjung toleransi dan tidak memberatkan umatnya. Apalagi toleransi untuk memberi kemudahan bagi sesamanya yang ingin menjalankan shalat wajib. Bahkan dari yang pernah kudengar dari ustdz Guru ngaji, orang yang sedang baca Alquran di dalam Masjid pun dianjurkan untuk mengecilkan suaranya seandainya bacaannya itu mengganggu kekhusukan orang yang sedang menjalankan shalat.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai kasus yang sama. Sesuatu maksud yang baik sering dijadikan sebagai justifikasi buat sesuatu yang kurang baik. Masih ingat legenda Robin Hood, menolong orang miskin dengan membagi-bagi hasil curian? Ah.. apakah Tuhan mau menerima amalan kita yang seperti itu? Apa benar tidak ada sesen pun dari hasil curian yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. ha ha ahha Robin Hood pun kayaknya perlu diaudit oleh KPK.

Balik lagi ke masalah justifikasi. Sesuatu maksud yang baik semestinya dilaksanakan dengan cara yang baik pula. Melukai tetap melukai, Mencuri pun tetap mencuri, walau buat naik haji sekalipun. Dan siapapun ( apalagi Tuhan) tidak ingin dilukai, tak ingin hartanya dicuri.

So jika ingin ibadah sempurna, jangan lah dikotorin oleh hal2 yang merusak ibadah. Kuncinya : Ikhlas

Kalau wudhu bisanya dengan air yang kecil, itu pun masih sah. Orang gak ada air saja juga masih sah dengan Tayyamum.

Ya Kan….?

3 comments 22 September 2008

Ta’jil

Bener ga nulisnya? Tajil?

Bedug Maghrib baru saja kudengar, Alhamdulillah……..! kuambil segelas es teh manis dan semangkuk kolak yang sudah disediakan oleh Marni, yang selama 1 minggu ini setia menyediakan untukku. Kebetulan aku satu2nya orang yang berpuasa disini.

” Mau langsung makan Mas?” Kata Marni

” Ntar aja mbak, aku mau ke mushola dulu”

” O ya sudah. Kutaruh di dapur ya makanannya”

Aku langsung menuju ke mushola yang jaraknya sekitar 100 m. Di tengah jalan aku berpapasan dengan seorang nenek tua yang sepertinya agak kepayahan membawa nampan, keluar dari sebuah gang kecil. Sejenak kuperhatikan nenek tua itu. Berusaha berjalan dengan cepat, tetapi terhambat oleh kekuatan fisiknya.

Kusapa sang nenek,

“Nek mau kemana? Sini aku bantu bawa nampannya?”

Si nenek memandangku, ragu. ” Nenek mau kemana?”

” Mau nganter tajil ini ke untuk orang-orang dimushola”

” Ya sudah kebetulan, saya juga mau shalat maghrib disana. Sini saya bawain. Kok baru dibawa sekarang Nek, kan sudah maghrib?”

“Iya, ini saya buat sendiri. Karena sudah tua jadi lambat”

Pikiranku melayang, Nenek ini sudah tua. Tetapi semangat pengorbanannya untuk berbagi boleh dibilang luar biasa. Kulihat sekilas isi nampan. Oh Bakwan tepung. Makanan sederhana yang biasa kita temui dijalan dengan harga 500 perak. Boleh dibilang ala kadarnya.

Tanpa kusadari, apa yang telah dilakukan sang nenek membuat bulu kudukku berdiri. Bukan karena takut, tetapi karena kekaguman yang luar biasa terhadap sebuah keihlasan di dalam mencari ridho Tuhan, berbagi pada sesama yang membutuhkan, walau kondisi dirinya juga tidak bisa dibilang berlebih. Sebuah bakwan akan sangat berarti bagi orang yang berpuasa yang kebetulan kesulitan mencari makanan

Ya Tuhan, kembali K au berikan aku sebuah pelajaran yang sangat berarti dalam hidup ini. Tak terasa air mata menetes dalam sujudku. dalam Doaku kusertakan sebuah permintaan pada Sang Khalik. Berilah aku kesempatan untuk berbuat seperti apa yang telah Nenek itu perbuat untuk sesamanya.

1 comment 20 September 2008

Takut….Ih

Tiba-tiba keingetan…..

ada percakapan menarik antara hantu lokal pribumi sok usil ( di negara lain ada pocong ndak ya?? dengan seorang teman yang katanya punya indra keenam diatas rata-rata. Disuatu malam di sebuah taman gedung perkantoran elit di daerah Sudirman.

Hantu lokal pribumi sok usil ( HLPSU) : Lagi ngadem Mas?

Teman (T): Yup, kamu?

HLPSU : Sama. Sering ke sini kan?

T: Ya begitulah.

HLPSU: Gak takut? Kan banyak penunggunya ( satpam maksunya x ya)

T: Ya biarin aja. Selama gak ganggu gw.

HLPSU: Ganggu tuh gimana? ( Agak2 tulalit nih hantu)

T: Penampilannya macem2, aneh, serem kayak pocong, kuntilanak, genderuwo dan temen2 nya. ( maunya hantu yang imut macam casper). Yang biasa aja napa? syukur yang cantik kayak Desy Ratnasari atau Happy Salma, atau yang seksi (tubuhnya) macam Julia Perez atau Dewi Persik. Gitu loh

HLPSU: Ok. Yang macem-macem itu hantu usil. Tapi yang gak aneh2 macem saya itu cuman mau minta tolong saja.

T: Jadi maksudnya situ hantu? ( keringat dingin deh….)

HLPSU: Kenapa takut ya ( jadi hantu apa bukan sih?). Jangan takut! kan tadi saya sudah bilang, kalau cuman mau minta tolong saja. Kenapa saya datang ke kamu? karena saya pikir kamu bisa dan mampu menolong saya. That’s why i am here now. (pernah kenalan nih kayaknya dengan Lady Di).

T: Oh eh hmmm anu sudah malam aku mau pulang ya. Bye

tega banget tuh teman ya. Tapi setelah di pikir-pikir, bener juga tuh kata-kata si Hantu.

Kenapa saya datang ke kamu? karena saya pikir kamu bisa dan mampu menolong saya. That’s why i am here now.

Sama hal nya dengan kita. Mungkin gak sih kita mau minta tolong kepada orang lain tanpa mempertimbangkan kemampuan dari yang kita maksud tersebut. Sebagai peminta tolong yang cerdas, tentunya kita akan berpikir kira-kira MAMPU ndak ini orang dimintain tolong.

Setelah kategori mampu, tinggal masuk kategori “MAU”. Biasanya kalau aku minta tolong, ini menjadi pilihan yang kedua setelah mampu dan ini pula yang membuatku agak sungkan meminta pertolongan orang. Karena kadang kategori ini unpredictable banget. Yang kita pikir mampu belum tentu dia mau. Bingung, antara gengsi dan kebutuhan. Gengsi kalu ditolak. Tapi mau tahu gimana, kalao gak kita coba? Walhasil inilah yang membuatku bermuka tebal datang ke seorang teman lain.

Aku: hi, how are you? i do need ur favor

TL: What can i do for you.

Me: I am in seriously financial problem. Aku harus menyelamatkan bisnisku. Aku perlu uang. Do me a favor or i am going to jail.

TL: How much do u need?

Me: 5 Million. Aku kembalikan bulan November

TL: Silent…

Me: How? are you mad at me just because i ask you a loan?

TL: I do understand your financial problem. But i really confuse about money matter.There is no enough consideration to have money transaction with a friend.

Me: ??????????? ( money transaction? aje gile lo. Gw butuh bantuan lo, gw butuh bantuan seorang teman untuk minjemin gw duit 5 juta. is that called as money transaction? Oh Ya Allah)

Aku langsung saja ngacir. Ternyata pertemanan hampir 5 tahun masih kurang nilainya dari 5 juta. ( he he heh senyum kecut)

Ada persamaan antara ceritaku dengan cerita teman dan hantu sok usil itu. Bedanya dalam kasusku yang ngacir yang meminta tolong, sedang kasus temanku yang ngacir malah yang dimintain tolong.

Kesamaannya: Rasa Takut ( takut apa aja deh………silahkan pikir sendiri ya)

Bye bye

2 comments 18 September 2008

Hidup Ini punya Tuhan

2 tahun lalu,

aku tidur ditemani seseorang yang dengan manjanya ingin selalu kupeluk dikasur yang empuk meski sedikit panas karena tak ada pendingin udara

aku sahur dengan seseorang yang memakan masakanku yang dengan ikhlas dan senang kubuatkan untuknya

aku terbangun dari tidur karena geretekan halus dari gigi seseorang yang lelap dengan wajah tanpa dosanya

aku berangkat kekantor dengan meninggalkan sebuah kecupan dikening seseorang yang akan mengunci pintu begitu aku keluar dari rumah

aku selalu berusaha untuk menelepon seseorang hanya sekedar untuk menanyakan bagaimana dengan puasanya hari itu

aku selalu berusaha pulang secepatnya hanya untuk supaya bisa berbuka puasa dengan seseorang yang senang berbelanja ta’jil di jalan yang panjang itu

aku berbuka puasa bersama dengan teman2 ku di kafe yang berpendingin udara, dan makanan yang enak

sekarang,

aku tidur sendirian bealaskan kasur tipis di ruang yang juga merangkap gudang yang pengap, tapi syukur alhumdulillah tidurku juga masih nyeyak
aku sahur sendirian dengan hanya segelas air putih, orang-orang disekelilingku tidak ada yang sahur, tapi syukur alhamdulillah aku masih bisa berpuasa diantara orang-orang yang tidak berpuasa itu

aku terbangun karena suara alarm dari sebuah handphone tua yang tidak berpulsa, tapi syukur alhadulillah masih bisa membangunkanku untuk shalat subuh

aku berangkat ke restoran tempatku bekerja dengan menutup pintu kamar yang tak bisa di kunci, tapi syukur alhamdulillah hari ini aku bisa belajar bagaimana mengelola sebuah rumah makan yang memang menjadi impianku

aku hanya diam sendiri berteman dengan komputer tua tempatku mengerjakan tuga2ku yang baru, tapi syukur alhamdulillah aku masih sempat menulis catatan kecil ini yang mungkin saja berguna bagi diriku sendiri atau bahkan orang lain

aku berbuka puasa dengan makanan seadanya yang dimasak oleh koki, tapi syukur alhamdulillah puasa ku hari ini selesai hingga waktunya, dan aku hanya bisa berharap, puasaku ini diterima oleh Tuhan

Terima kasih Tuhan, dua tahun ini aku dianugrahi titipan rahmat mu yang menakjubkan dan ampunilah aku karena baru sekarang kusyukuri nikmat itu. Dan kurelakan jika kini Engkau mengambil kembali segala punya-Mu.

2 comments 17 September 2008

Gw apa Aku?

Gw kadang2 bingung….

pantes ga sih gw menyebut aku dengan gw? secara aku ini  orang jawa, meski ada keturunan mata sipit, tapi hampir gak pernah bersinggungan dengan kebudayaan orang2 lain yang bermata sipit.

Budaya bokap gw ( ha ha haah ah, sekali lagi bertanya dalam hati pantas ga ya?)  sudah menyelimuti sejak di gw brojolin ke dunia ini. Semenjak benar-benar pindah ke Jakarta 12 tahun yang lalu ( oh my God, selama itu ya?) gw jarang ngomong bahasa jawa, meski dengan orang2 jawa lainnya yang juga tinggal di Jakarta tetep aja gw pake bahasa Indonesia, yah tetep dengan logat medoknya yang bikin ilfil sebagian orang.

Balik lagi ke Gw apa aku. Aku dalam bahasa Jawa ( Jawa tengah-red)ya tetep aku, di sebagian daerah ada yang bilang Inyong, atau Nyong Aja, ada juga yang bilang Dalem, ada lagi Kulo. Dalam bahasa Sunda orang bilang Abdi, ada yang bilang Aing, ada yang bilang Simkuring. Masing- masing penggunaannya disesuaikan dengan siapa kita berbicara.

Gw sama bokap menyebut aku dengan kulo, sama nyokap ya aku. Beda daerah, budaya beda pula. Susahnya  punya nyokap dan bokap beda kultur. Pernah suatu kali ketukar, gw ber ” aku-aku” dengan bokap. Bokap sih diem saja, tapi dari ekspresi kejawaan nya kelihatan kalau beliau kurang suka. Jadi orang jawa teh ribed pisan. Beda dengan nyokap, nyokap lebih moderat dalam melihat segala hal. Sering kudengar dia bicara ber “gw-gw” ria dengan tante-tanteku. Di Jawa ya bukan di Jakarta.

Kalao boleh jujur, aku lebih suka berbahasa berdasarkan dengan  pas tidaknya di hatiku.  Sebagai contoh gw dengan pacar(mantan-mantan pacar-red) tidak pernah ber “gw-elo”, kecuali kalau dalam kondisi marah. Sama temen pun jarang gw-gw an. Apalagi dengan relasi, bos, atau mungkin orang yang lebih tua. Dan kalau sekali lagi boleh jujur gw merasa “aku” lebih cocok, lebih pas, lebih luwes di lidah dan hatiku. gak lucu kan mgomong Gw tetapi dengan logat medok. Bukan memandang bahwa GW lebih kasar dari Aku. Tapi lebih kearah pantes, pas, dan nikmat di lidah dan hati ya AKU.

So, gw tetep ber aku-aku ya….(sekali-kali campur gpp ya)

28 comments 15 September 2008

Previous Posts


Another Story Of God Seeker

Categories

Links

Wanna Chat?

bywi2t is My YM ID

Recent Comments

Pages